Harga Minyak Terkoreksi, Rupiah Menguat ke 17.870
Harga minyak Brent turun setelah ekspor Timur Tengah dilaporkan pulih dan AS menyiapkan pinjaman cadangan minyak darurat. Rupiah menguat ke 17.870 terhadap dolar AS.
Harga minyak terkoreksi setelah ekspor minyak Timur Tengah dilaporkan pulih mendekati tingkat sebelum perang, sementara rupiah menguat ke level 17.870 terhadap dolar AS pada Rabu (30/9). Harga minyak Brent sebelumnya turun sekitar 2,6% ke US$102,6 per barel pada penutupan Selasa (29/9), lalu stabil di kisaran US$103 per barel pada Rabu sore.
Harga minyak terkoreksi setelah ekspor Timur Tengah pulih
Penurunan harga minyak terjadi seiring kabar pemulihan ekspor minyak dari Timur Tengah. JPMorgan memperkirakan rata-rata ekspor minyak mentah selama 10 hari dari kawasan tersebut telah meningkat menjadi 17,5 juta barel per hari, atau 98% dari tingkat sebelum perang.
Bloomberg juga melaporkan Arab Saudi telah melanjutkan ekspor melalui Laut Merah. Jalur itu menjadi alternatif selain Selat Hormuz. Pengiriman kembali berjalan setelah minyak dialirkan melalui pipa utama East-West dengan volume sekitar 3,5 juta barel per hari, setara sekitar setengah kapasitas pipa tersebut.
Aliran ekspor melalui Selat Hormuz masih terlihat dengan penggunaan kapal yang melakukan transit secara terselubung. Risiko terhadap pelayaran, menurut laporan itu, masih berlangsung. Pemulihan jalur ekspor ini mengurangi kekhawatiran pasar mengenai pengetatan pasokan minyak akibat gangguan di Selat Hormuz.
Cadangan darurat AS menambah pasokan minyak
Kenaikan pasokan minyak turut didukung keputusan AS pada Selasa (29/9) untuk meminjamkan cadangan minyak darurat hingga 40 juta barel. Volume tersebut menjadi bagian terakhir dari kontribusi AS sebesar 172 juta barel dalam koordinasi pelepasan cadangan minyak global sejak perang dimulai.
Cadangan minyak darurat pada dasarnya merupakan stok yang disiapkan untuk membantu menghadapi gangguan pasokan. Ketika cadangan dilepas atau dipinjamkan ke pasar, volume minyak yang tersedia dapat bertambah. Namun, pergerakan harga minyak tetap dipengaruhi banyak faktor, termasuk distribusi, jalur pelayaran, dan kondisi pasokan di berbagai kawasan.
Dampak harga minyak terkoreksi bagi rupiah dan Indonesia
Normalisasi ekspor minyak Timur Tengah dinilai dapat meredakan tekanan inflasi global apabila berlanjut. Dalam laporan tersebut, kondisi itu juga disebut dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga.
Bagi Indonesia, harga minyak yang lebih rendah berpotensi meringankan belanja subsidi energi dan memperbaiki neraca perdagangan melalui penurunan impor energi. Faktor-faktor tersebut berpotensi mendukung penguatan nilai tukar rupiah.
Rupiah pada Rabu (30/9) menguat 0,58% ke level 17.870 terhadap dolar AS. Pada perdagangan yang sama, yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun turun 7 basis poin menjadi 7,14%, sedangkan IHSG ditutup melemah 0,83%.
Basis poin atau bps merupakan satuan perubahan kecil dalam tingkat imbal hasil maupun suku bunga. Satu basis poin setara 0,01 poin persentase. Sementara yield obligasi adalah tingkat imbal hasil yang menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pelaku pasar obligasi.
Poin Penting
- Harga minyak Brent turun sekitar 2,6% ke US$102,6 per barel pada penutupan Selasa (29/9).
- Pada Rabu (30/9) sore, harga minyak Brent stabil di level US$103 per barel.
- Rata-rata ekspor minyak mentah Timur Tengah selama 10 hari diperkirakan mencapai 17,5 juta barel per hari.
- AS mengumumkan peminjaman cadangan minyak darurat hingga 40 juta barel.
- Rupiah menguat 0,58% ke level 17.870 terhadap dolar AS pada Rabu (30/9).
Data PCE AS dan pergerakan pasar
Investor juga diminta memonitor data inflasi PCE AS periode Agustus 2026 yang dijadwalkan dirilis pada malam hari waktu setempat. PCE merupakan ukuran inflasi yang mencerminkan perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga.
Data inflasi dapat menjadi perhatian pasar karena berkaitan dengan ekspektasi arah suku bunga. Dalam situasi harga minyak yang bergerak akibat perubahan pasokan, pelaku pasar biasanya mencermati perkembangan inflasi, nilai tukar, imbal hasil obligasi, serta respons pasar saham secara bersamaan.
Pertanyaan Seputar Harga Minyak Terkoreksi
Berapa harga minyak Brent setelah koreksi?
Harga minyak Brent turun sekitar 2,6% ke US$102,6 per barel pada penutupan Selasa (29/9). Pada Rabu (30/9) sore, harganya stabil di level US$103 per barel.
Mengapa harga minyak terkoreksi?
Harga minyak terkoreksi seiring kabar pemulihan ekspor minyak Timur Tengah yang diperkirakan telah kembali mendekati tingkat sebelum perang, ditambah rencana peminjaman cadangan minyak darurat AS.
Bagaimana posisi rupiah pada Rabu (30/9)?
Rupiah menguat 0,58% ke level 17.870 terhadap dolar AS.
Apa yang perlu dipantau setelah harga minyak terkoreksi?
Data inflasi PCE AS periode Agustus 2026 dijadwalkan dirilis pada malam hari waktu setempat. Perkembangan normalisasi ekspor minyak Timur Tengah juga berkaitan dengan arah harga minyak dan perhatian pasar.
Pergerakan harga minyak terkoreksi, kelanjutan ekspor melalui Laut Merah dan Selat Hormuz, serta data inflasi PCE AS menjadi sejumlah informasi yang akan dicermati pasar setelah rupiah menguat ke level 17.870.
