Houthi Klaim Targetkan Bandara Dammam dengan Drone
Houthi mengklaim dua drone menyerang Bandara King Fahd di Dammam dan mengganggu lalu lintas udara. Dampaknya belum dikonfirmasi otoritas Saudi.
Kelompok Houthi mengklaim mengirim dua pesawat nirawak ke Bandara King Fahd di Dammam, Arab Saudi, dalam rentang 48 jam. Menurut juru bicara militer Houthi Yahya Saree, serangan itu mengganggu lalu lintas udara di salah satu kota pelabuhan utama kerajaan tersebut.
Klaim itu disampaikan saat serangan terhadap wilayah Arab Saudi kembali meningkat seiring berkobarnya pertempuran di Yaman. Namun, laporan yang dikutip detikNews belum memuat konfirmasi otoritas Saudi bahwa bandara di Dammam mengalami gangguan akibat serangan tersebut. Perbedaan antara klaim Houthi dan keterangan resmi itu membuat dampak terhadap penerbangan belum dapat dipastikan.
Dalam pernyataannya, Saree juga mengklaim kelompoknya menyerang radar peringatan dini Arab Saudi dan sebuah pesawat angkut militer di bagian barat daya negara itu. Ia menyebut dua sasaran tersebut berada di wilayah kerajaan, tetapi tidak merinci lokasi maupun kerusakan yang ditimbulkan.
Klaim gangguan penerbangan belum dikonfirmasi
“Dalam 48 jam terakhir, angkatan bersenjata kami berhasil menargetkan Bandara Dammam dalam dua tahap menggunakan dua unit pesawat nirawak (drone),” kata Saree, seperti dikutip AFP dan detikNews, Selasa, 3 November 2026.
Saree menyatakan operasi itu mencapai sasaran dan menghambat lalu lintas udara. Pernyataan tersebut, sejauh keterangan yang tersedia, berasal dari pihak Houthi. Belum ada rincian mengenai jumlah penerbangan yang terdampak, berapa lama gangguan berlangsung, atau apakah layanan bandara sempat dihentikan.
Bandara King Fahd melayani Dammam, kota di pesisir Teluk yang menjadi pusat pelabuhan dan kegiatan industri. Serangan terhadap fasilitas penerbangan dapat berdampak pada pergerakan penumpang maupun operasi logistik, tetapi belum ada angka dalam laporan yang menunjukkan besaran dampak yang terjadi kali ini.
Dalam beberapa pekan sebelumnya, Houthi juga mengaku menyerang sejumlah bandara Saudi. Laporan detikNews yang merujuk Al Jazeera menyebut setidaknya lima bandara pernah terdampak serangan. Di antara lokasi yang disebut ialah King Khalid di Riyadh, King Fahd di Dammam, serta bandara di Jazan dan Najran.
Riyadh menyatakan dua drone dicegat
Di sisi lain, Arab Saudi sebelumnya mengumumkan bahwa pasukannya mencegat dua pesawat nirawak di wilayah Riyadh. Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Turki al-Malki, menyampaikan keterangan tersebut melalui platform X. Ia tidak menyebut pihak yang bertanggung jawab atas drone yang dicegat itu.
Keterangan Saudi tersebut berkaitan dengan wilayah ibu kota, bukan Dammam. Karena itu, informasi tentang pencegatan di Riyadh belum menjawab apakah serangan yang diklaim Houthi terhadap bandara di timur kerajaan berhasil mencapai sasaran atau menyebabkan gangguan penerbangan.
Arab Saudi memiliki sistem pertahanan udara berlapis, termasuk rudal pencegat Patriot dan THAAD. Negara itu juga mengoperasikan jet tempur F-15 dan Eurofighter Typhoon. Namun, kepemilikan perangkat militer canggih tidak berarti setiap ancaman dapat dicegah.
Peneliti senior Departemen Studi Perang King’s College, Nawaf Obaid, menilai sebagian persenjataan Houthi berkaitan dengan teknologi Iran, dengan pengaruh teknologi China. Menurut dia, kemampuan produksi lokal kelompok itu lebih terbatas pada sejumlah rudal dan drone berteknologi sederhana. Obaid juga menilai sebagian serangan dapat lolos karena luas wilayah Saudi dan panjangnya perbatasan dengan Yaman, meski banyak upaya lain berhasil digagalkan.
Konflik Yaman kembali menelan korban
Serangan tersebut berlangsung dalam konflik yang kembali memanas setelah jeda gencatan senjata selama bertahun-tahun. Houthi bertempur melawan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Pertempuran kembali pecah pada Juli, menurut laporan detikNews.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat lebih dari 1.600 orang tewas dan lebih dari 300.000 orang mengungsi sejak pertempuran kembali berlangsung. Angka itu menunjukkan bahwa eskalasi bukan hanya persoalan serangan lintas perbatasan, tetapi juga memperberat krisis kemanusiaan di Yaman.
Jumlah persenjataan Houthi tidak diketahui secara pasti. Sementara itu, laporan detikNews mengenai pertahanan Saudi menyebut Riyadh menghadapi keterbatasan stok amunisi pencegat Patriot dan THAAD, setelah persediaan sistem tersebut terkuras oleh kebutuhan militer Amerika Serikat dan sekutunya. Saudi juga disebut telah menghubungi sejumlah negara sahabat untuk meminta dukungan pertahanan udara.
Untuk saat ini, rincian mengenai kondisi operasional Bandara King Fahd dan dampak klaim serangan terhadap jadwal penerbangan masih belum tersedia dalam laporan yang dirujuk. Keterangan lanjutan dari otoritas Saudi akan menentukan apakah klaim gangguan udara yang disampaikan Houthi dapat dikonfirmasi.
