Martha Tilaar Dimakamkan di San Diego Hills Jumat
Martha Tilaar, pendiri Martha Tilaar Group dan pelopor industri kecantikan Indonesia, meninggal pada usia 89 tahun. Jenazahnya dijadwalkan dimakamkan di San Diego Hills, Karawang, pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Jenazah Martha Tilaar, pendiri kelompok usaha kecantikan Martha Tilaar Group, dijadwalkan dimakamkan di San Diego Hills Memorial Park, Karawang, Jawa Barat, pada Jumat, 16 Oktober 2026. Martha meninggal dunia pada Rabu, 14 Oktober, dalam usia 89 tahun, meninggalkan duka bagi keluarga dan industri kecantikan Indonesia.
Jenazah disemayamkan di rumah keluarga di kawasan Patra Kuningan Utara, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sejumlah kerabat dan pelayat datang menyampaikan belasungkawa, sementara karangan bunga memenuhi area rumah duka.
Kabar wafatnya Martha disampaikan keluarga dan juga mendapat perhatian dari Persatuan Ahli Kecantikan dan Pengusaha Salon Indonesia, atau Tiara Kusuma. Organisasi tersebut menyebut Martha sebagai anggota Dewan Kehormatan.
Pemakaman Martha Tilaar dijadwalkan Jumat
Rangkaian ibadat penghiburan bagi Martha dimulai pada Rabu sore dan berlanjut Kamis, 15 Oktober. Setelah itu, keluarga berencana memberangkatkan jenazah ke San Diego Hills Memorial Park pada Jumat.
Putra Martha, Bryan David Emil Tilaar, mengatakan ibunya meninggal saat tidur. Dalam keterangan kepada wartawan, Kilala Ezra Tilaar menyebut Martha sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama sekitar sepekan karena flu.
“Kami sekeluarga merasa sangat kehilangan. Ibu akhirnya di usia 89 tahun berpulang kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujar Kilala di rumah duka.
Martha meninggalkan empat anak dan sembilan cucu. Kepergiannya terjadi tujuh tahun setelah suaminya, Tilaar, meninggal dunia. Bryan mengatakan keluarga merasa ibunya kini telah kembali bertemu dengan sang ayah.
Di mata keluarga, Martha bukan hanya ibu dan nenek, tetapi juga sumber inspirasi. Ketekunan, keberanian mengambil langkah, serta perhatian pada hal-hal terperinci menjadi bagian dari nilai yang dikenang anak-anaknya.
Merintis usaha dari salon sederhana
Lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 4 September 1937, Martha menempuh pendidikan di IKIP Jakarta sebelum memperdalam ilmu kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat. Ia memulai perjalanan bisnisnya pada 1970 dengan membuka salon sederhana di garasi rumah orangtuanya di Menteng, Jakarta.
Di tengah pasar yang kala itu banyak diisi produk asing, Martha mengembangkan gagasan yang berbeda: memadukan ilmu kecantikan modern dengan bahan alami, jamu, dan pengetahuan perawatan tradisional Indonesia. Resep keluarga serta kearifan lokal, termasuk tradisi kecantikan Keraton Jawa, menjadi inspirasi dalam pendekatan bisnisnya.
Usaha yang berawal dari sebuah salon itu berkembang menjadi Martha Tilaar Group, kelompok usaha yang bergerak di bidang kosmetik dan jamu, pendidikan kecantikan, spa, serta distribusi. Sejumlah merek yang berada dalam naungannya antara lain Sariayu, Biokos, dan Caring Colours.
Perjalanan tersebut turut membuka ruang bagi produk kecantikan lokal untuk bersaing di pasar yang lebih luas. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, menilai Martha membuktikan bahwa produk berbasis kekayaan alam dan kearifan lokal dapat tumbuh sebagai bisnis modern.
Warisan bagi industri kecantikan dan perempuan
Kontribusi Martha tidak berhenti pada pembangunan perusahaan. Ia juga dikenal mendorong pelestarian budaya, pengembangan pengetahuan herbal, dan pemberdayaan perempuan. Dalam menjalankan usahanya, Martha membawa empat pilar, yakni Beauty Education, Beauty Green, Beauty Culture, dan Empowering Women.
Melalui upaya pemberdayaan, ia turut melatih perajin dan terapis lokal agar memiliki keterampilan serta peluang untuk mandiri secara ekonomi. Langkah itu menghubungkan bisnis kecantikan dengan masyarakat yang terlibat dalam rantai pasok bahan baku maupun layanan.
Shinta menyebut keberanian Martha membangun dan memimpin kelompok usaha pada masa ketika perempuan menghadapi banyak hambatan sebagai salah satu warisan pentingnya. Anne Patricia Sutanto, Vice President Director PT Pan Brothers Tbk, juga mengenang Martha sebagai pengusaha yang menginspirasi perempuan untuk berkarya sekaligus berkomitmen pada keluarga.
Pada 1984, Martha menerima gelar doktor kehormatan dalam bidang fashion and artistry dari World University, Tucson, Arizona, Amerika Serikat. Pengakuan itu melengkapi perjalanan panjangnya dalam mengangkat pengetahuan dan potensi lokal ke industri kecantikan.
Pemakaman di San Diego Hills akan mengakhiri perjalanan hidup seorang perintis, tetapi gagasannya masih relevan bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan produk lokal. Perpaduan ilmu, tradisi, dan pemberdayaan masyarakat yang ia bangun menjadi bekal bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan industri kecantikan Indonesia.
