Studi Dua Tahun: Suplemen DHA Tak Ubah Hasil Tes Otak
Uji klinis dua tahun terhadap 365 orang dewasa tidak menemukan manfaat suplemen DHA dosis tinggi pada tes kognitif atau penyusutan hipokampus. Hasilnya terbatas pada kelompok dan dosis yang diteliti.
Uji klinis selama dua tahun terhadap 365 orang dewasa berusia 55–80 tahun tidak menemukan bahwa suplemen DHA dosis tinggi memperbaiki hasil tes kognitif atau mencegah penyusutan bagian otak yang berperan dalam memori. Meski kadar DHA di sistem saraf peserta meningkat, hasil kelompok suplemen tidak berbeda bermakna dari kelompok plasebo.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal eBioMedicine ini menyoroti pentingnya membedakan perubahan kadar zat di tubuh dengan manfaat yang benar-benar terukur pada fungsi otak. Temuannya berlaku pada peserta, dosis, dan masa pengamatan yang diteliti—bukan jawaban untuk semua orang yang mengonsumsi minyak ikan.
Uji DHA dosis tinggi pada orang dewasa berisiko
Peneliti merekrut 365 orang berusia 55–80 tahun yang belum mengalami demensia. Para peserta jarang memperoleh DHA dari makanan dan setidaknya memiliki satu faktor risiko demensia. Sekitar 47 persen di antaranya membawa varian gen APOE ε4, yang berkaitan dengan peningkatan risiko Alzheimer. Namun, keberadaan varian tersebut tidak berarti seseorang pasti akan mengalami penyakit itu.
Peserta dibagi secara acak ke dalam dua kelompok. Satu kelompok mengonsumsi 2.000 miligram DHA setiap hari, sedangkan kelompok lainnya menerima plasebo, yakni bahan pembanding tanpa zat aktif. Uji coba berlangsung selama dua tahun dengan metode double-blind: peserta maupun peneliti tidak mengetahui siapa yang menerima suplemen hingga penelitian berakhir.
DHA merupakan salah satu asam lemak omega-3 yang menjadi perhatian dalam penelitian kesehatan otak. Suplemen minyak ikan kerap dikonsumsi dengan harapan dapat membantu mempertahankan daya ingat seiring bertambahnya usia. Namun, uji klinis ini secara khusus menguji suplemen DHA dosis tinggi, bukan seluruh bentuk minyak ikan atau kebiasaan makan tertentu.
Kadar DHA naik, tetapi tes kognitif tak berubah
Enam bulan setelah peserta mulai mengonsumsi suplemen, pemeriksaan menunjukkan adanya peningkatan penanda DHA dalam cairan serebrospinal. Cairan ini mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Temuan tersebut menunjukkan DHA dari suplemen mencapai sistem saraf pusat.
Akan tetapi, kenaikan penanda itu tidak disertai perubahan yang terukur pada hasil tes kognitif setelah dua tahun. Pemindaian otak juga tidak menunjukkan bahwa suplemen mencegah penyusutan hipokampus, bagian otak yang berperan dalam pembentukan dan pengelolaan memori.
Dengan kata lain, meningkatnya kadar DHA di sistem saraf tidak otomatis diikuti perbaikan kemampuan berpikir atau perlindungan struktur otak. Dalam penelitian ini, hasil kelompok yang mengonsumsi suplemen tidak lebih baik secara bermakna daripada kelompok plasebo.
Temuan tersebut tidak membuktikan bahwa DHA sama sekali tidak berperan dalam kesehatan otak. Namun, penelitian ini tidak menemukan bukti bahwa dosis tinggi yang diuji memberikan perlindungan terukur terhadap perubahan kognitif maupun penyusutan hipokampus pada kelompok peserta selama masa pengamatan.
Hasil studi bukan penilaian atas semua manfaat minyak ikan
Peneliti tidak menguji apakah makan ikan atau mengikuti pola makan seimbang dapat membantu menjaga kesehatan otak. Karena itu, hasil uji coba ini tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa konsumsi ikan memiliki dampak yang sama dengan suplemen DHA dosis tinggi. Penelitian tersebut juga tidak menilai manfaat suplemen untuk tujuan kesehatan lain.
Ada batasan yang perlu diperhatikan. Sekitar 38 persen peserta tidak menyelesaikan seluruh masa tindak lanjut, terutama karena pandemi COVID-19. Angka tersebut membuat hasil penelitian perlu dibaca dengan cermat, sekaligus menunjukkan bahwa temuan ini bukan jawaban final untuk semua orang.
Karakteristik peserta juga membatasi cakupan kesimpulan. Mereka berusia 55–80 tahun, belum mengalami demensia, jarang mengonsumsi DHA dari makanan, dan memiliki faktor risiko tertentu. Hasilnya belum tentu sama pada kelompok usia atau kondisi kesehatan lain, maupun pada dosis dan lama penggunaan yang berbeda.
Perlukah mengubah konsumsi suplemen?
Studi ini tidak mendukung penggunaan DHA dosis tinggi sebagai cara yang terbukti mencegah Alzheimer atau menjaga memori pada kelompok yang diteliti. Peneliti masih menelaah bagaimana otak menyerap dan menggunakan omega-3. Mereka juga menduga dampak nutrisi dapat dipengaruhi pola makan dan kondisi kesehatan secara keseluruhan, tetapi kemungkinan itu belum diuji dalam penelitian ini.
Orang yang mengonsumsi suplemen atas anjuran tenaga kesehatan sebaiknya tidak mengubah penggunaannya hanya berdasarkan satu penelitian. Hasil studi dapat menjadi bahan diskusi dengan dokter, terutama karena manfaat yang diuji terbatas pada DHA dosis tinggi dan hasil tertentu selama dua tahun. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menjawab apakah kelompok lain, dosis berbeda, atau pola konsumsi tertentu memberi hasil yang berbeda.
