Musim Hujan, Waspadai DBD, Diare, dan Leptospirosis
Genangan, banjir, dan sanitasi buruk meningkatkan risiko DBD, diare, serta leptospirosis. Dinas Kesehatan Aceh mengimbau warga menjaga kebersihan dan menghindari kontak dengan air banjir.
Genangan air, banjir, dan sanitasi yang buruk dapat meningkatkan risiko DBD, diare, serta leptospirosis saat musim hujan. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh mengingatkan warga agar menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk menekan kemungkinan penularan.
Penelaah Kebijakan pada Bapelkes Dinas Kesehatan Aceh, Sri Mulyati Mukhtar, menyampaikan imbauan itu pada Rabu (28/10/2026). Risiko penyakit muncul melalui jalur berbeda. Genangan bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk pembawa DBD, sedangkan air dan makanan yang tercemar banjir dapat memicu diare. Leptospirosis berisiko menular saat seseorang bersentuhan dengan air atau lingkungan yang tercemar urine hewan terinfeksi, terutama tikus.
Genangan perlu ditangani, bukan hanya diasapi
Untuk mencegah DBD, warga dianjurkan rutin memberantas sarang nyamuk dengan gerakan 3M Plus. Upayanya meliputi menguras sekaligus menyikat tempat penampungan air, menutup wadah air dengan rapat, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air.
Langkah tersebut menyasar tempat nyamuk berkembang biak. Losion antinyamuk dan pemeliharaan ikan pemakan jentik juga dapat menjadi bagian dari pencegahan. Namun, pengasapan atau fogging saja tidak cukup. Cara itu hanya efektif membunuh nyamuk dewasa, sehingga jentik dan sumber perkembangbiakan tetap perlu diberantas secara rutin.
Barang bekas yang dibiarkan terbuka dapat menampung air, sementara wadah penampungan yang tidak dibersihkan bisa menjadi tempat berkembangnya jentik. Karena itu, upaya pengendalian perlu dilakukan berulang, bukan hanya ketika ada pengasapan. Menjaga lingkungan tetap bersih juga membantu mengurangi kondisi yang mendukung munculnya penyakit saat hujan.
Air dan makanan aman untuk mencegah diare
Banjir dapat mencemari sumber air maupun makanan. Untuk mengurangi risiko diare, masyarakat diminta memastikan makanan dimasak hingga matang dan mengonsumsi air minum yang aman. Kebiasaan mencuci tangan memakai sabun dan air mengalir juga perlu dilakukan, terutama sebelum makan, saat menyiapkan makanan, serta setelah menggunakan toilet.
Imbauan itu mencakup kebersihan dalam kegiatan sehari-hari, bukan hanya ketika banjir terjadi. Tangan yang bersih saat mengolah makanan dan air minum yang aman menjadi bagian dari pencegahan yang bisa dilakukan di rumah. Orang tua juga diminta mengawasi kondisi anak, khususnya bila anak sulit minum atau menunjukkan tanda dehidrasi.
Pemenuhan gizi, istirahat yang cukup, air minum aman, dan imunisasi sesuai jadwal turut menjadi perhatian. Bagi anak yang mengalami kesulitan minum, keluarga perlu memantau kondisinya. Apabila muncul tanda bahaya atau keadaan memburuk, pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan.
Hindari kontak dengan air banjir
Air banjir berisiko membawa pencemar, termasuk urine hewan terinfeksi yang dapat menularkan leptospirosis. Warga diimbau menghindari kontak langsung dengan air tersebut. Jika harus membersihkan lingkungan yang tercemar, gunakan sepatu bot dan sarung tangan. Luka pada tubuh perlu ditutup dengan balutan kedap air agar tidak bersentuhan langsung dengan lingkungan yang terkontaminasi.
Perhatian medis perlu segera dicari jika muncul sesak napas, penurunan kesadaran, kejang, perdarahan, nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, atau tubuh tidak mampu menerima minum. Demam yang menetap dan kondisi yang makin memburuk juga perlu diperiksa tenaga kesehatan. Antibiotik tidak boleh digunakan tanpa resep dokter.
Dinas Kesehatan Aceh menekankan pencegahan melalui kebersihan lingkungan dan PHBS. Saat hujan atau banjir, warga perlu tetap memperhatikan sumber air, makanan, kondisi anak, serta perlindungan diri ketika membersihkan area tercemar.
