Danantara Mulai Beli Saham Saat Bursa Bergejolak

Danantara mulai membeli saham saat pasar bergejolak menyusul sorotan MSCI. Investasi dilakukan melalui mitra, dengan fokus pada prospek dan perbandingan risiko serta imbal hasil.

danantara-mulai-beli-saham-saat-bursa-bergejolak

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mulai membeli saham di Bursa Efek Indonesia di tengah gejolak pasar setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Danantara menyebut saham yang dipilih memiliki prospek dan valuasi menarik, terutama sejumlah emiten milik negara.

Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, mengatakan pembelian sudah direalisasikan. Namun, ia belum mengungkap saham yang dibeli maupun nilai dana yang telah ditempatkan. Investasi akan berlanjut dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan potensi keuntungan dibandingkan risiko.

“Kami hanya melihat bahwa saat ini potensi keuntungan dibandingkan risikonya menarik,” kata Pandu dalam diskusi media di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, 22 Oktober 2026. Ia menyebut Danantara ingin memiliki lebih banyak saham yang dinilai menarik selama harga dan prospeknya sesuai.

Danantara melihat peluang pada saham BUMN

Gejolak pasar yang menyertai isu MSCI, menurut Pandu, perlu dibedakan dari kondisi fundamental perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa. Ia menilai sejumlah emiten, khususnya BUMN yang dimiliki Danantara, masih memiliki dasar bisnis dan prospek pertumbuhan yang baik.

Penilaian itu menjadi salah satu alasan Danantara mulai masuk ke pasar modal. Pandu mengatakan valuasi sejumlah saham saat ini dinilai menarik, sementara keputusan investasi tetap berorientasi pada keuntungan. Besaran investasi berikutnya akan bergantung pada perkembangan pasar.

“Mengenai MSCI, menurut kami memang ada perbedaan antara isu yang ada di pasar modal dengan perusahaan-perusahaan yang ada di dalam pasar modal itu sendiri.”

Pandu juga menegaskan persoalan tata kelola pasar modal tidak seharusnya langsung disamakan dengan mutu bisnis emiten. Ia mengingatkan bahwa peringatan MSCI tetap perlu ditanggapi serius karena berhubungan dengan kepercayaan investor, tetapi pengumuman tersebut belum merupakan keputusan final.

Peringatan MSCI dan kepercayaan investor

MSCI menjadi sorotan karena penilaiannya berpotensi menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Pandu mengatakan masukan dari investor dan penyedia indeks perlu didengar sebagai bahan perbaikan, sementara reformasi yang sedang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan perlu dipercepat dan didukung berbagai pihak.

Ia menyebut ada sekitar 32 juta investor di pasar modal Indonesia yang memiliki kepentingan masing-masing. Karena itu, isu tersebut tidak bisa dianggap ringan. Namun, Pandu juga mengingatkan bahwa MSCI bukan satu-satunya penyedia indeks yang menilai pasar Indonesia. FTSE Russell, misalnya, masih mempertahankan Indonesia dalam kategori secondary emerging sembari memantau efektivitas reformasi.

Untuk menggambarkan kondisi perusahaan tercatat, Pandu memaparkan data emiten yang memiliki pendapatan tahunan di atas Rp 5 triliun. Dari 146 emiten yang disebut, 134 membukukan laba. Secara agregat, laba perusahaan-perusahaan tersebut tumbuh 15 persen pada semester I 2026, sedangkan pendapatan meningkat 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ia juga menyampaikan bahwa 121 emiten nonkeuangan memiliki kas Rp 583 triliun pada kuartal II 2026, naik 13 persen secara tahunan. Sebanyak 61 dari 146 emiten yang dipaparkan memiliki tingkat pengembalian ekuitas di atas 19 persen. Di sektor perbankan dan konsumsi, terdapat perusahaan dengan ROE sekitar 20 persen dan rasio harga terhadap laba di bawah 10 kali.

Mitra investasi akan memilih saham

Danantara tidak menentukan sendiri saham yang dibeli. Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara, Pahala Mansury, menjelaskan lembaganya menggunakan mitra investasi dari dalam maupun luar negeri untuk mengelola investasi di pasar publik. Mitra tersebut yang akan menentukan pilihan saham berdasarkan pertimbangan profesional.

Sebelum menunjuk mitra, Danantara menilai rekam jejak dan kinerja investasi sebelumnya, kualitas tim, pengalaman, serta proses pengambilan keputusan. Pahala menyebut kinerja historis, tim investasi, dan mekanisme pengambilan keputusan sebagai tiga pertimbangan utama. Ia tidak mengungkap identitas mitra yang telah ditunjuk.

Pahala juga mengatakan Danantara telah menempatkan dana dalam jumlah cukup besar di pasar domestik. Lembaga itu menyiapkan tambahan investasi dengan nilai kurang lebih setara dengan dana yang sudah ditempatkan, meski tidak merinci jumlahnya.

Dengan strategi tersebut, Danantara berupaya memanfaatkan valuasi yang dinilai menarik tanpa mengabaikan risiko pasar. Perkembangan reformasi tata kelola dan respons investor terhadap isu MSCI akan menjadi bagian dari kondisi yang dipantau sebelum investasi berikutnya dilakukan.

Fokustoday