Pramono Tegaskan Aturan Ketat JRF Usai Pelari Terobos Pagar
Pramono Anung meminta peserta Jakarta Running Festival mematuhi aturan COP dan COT setelah pelari terlihat menerobos pembatas. Ia menyebut standar lomba berlabel Gold memiliki ketentuan ketat.
Gubernur Jakarta Pramono Anung meminta peserta Jakarta Running Festival (JRF) mematuhi aturan batas waktu setelah sejumlah pelari half marathon terlihat menerobos pembatas dalam video yang viral pada Minggu, 25 Oktober 2026. Ia mengatakan ketentuan cut-off point (COP) dan cut-off time (COT) dalam lomba tahun ini harus dijalankan karena JRF mengacu pada standar kompetisi dengan label Gold.
Dalam rekaman yang beredar, panitia menutup jalur pelari setelah tenggat COP terlewati. Sejumlah peserta tetap berusaha melanjutkan lomba dengan menerobos atau memanjat pagar, bahkan ada yang membuka pembatas secara paksa dan melontarkan kata-kata kasar.
Pramono menegaskan batas waktu tersebut bukan aturan yang dibuat sepihak oleh panitia. Menurut dia, standar penyelenggaraan lomba dengan label Gold mencakup ketentuan kompetisi yang harus dipenuhi, termasuk pengaturan waktu dan keamanan.
Pramono: aturan COP dan COT harus dipatuhi
Pramono menyampaikan tanggapannya setelah mengikuti kategori 10K JRF di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat. Ia menyebut kategori half marathon telah masuk dalam standar Gold, sehingga aturan perlombaannya juga lebih ketat.
“Karena half marathon itu kan sudah masuk dalam Gold Medal. Karena sudah masuk dalam Gold Medal, aturannya itu juga ketat. Itu bukan aturan yang dibuat oleh panitia, tetapi itu memang aturannya Gold Medal,” kata Pramono.
Dalam keterangannya, Pramono menjelaskan standar itu berkaitan dengan penyelenggaraan lomba, mulai dari pengukuran rute, pencatatan waktu, keamanan dan layanan medis hingga ketentuan kompetisi elite dunia, termasuk aturan mengenai doping. Ia menekankan bahwa COP dan COT termasuk aturan yang harus dipenuhi peserta.
Ia pun mengingatkan para pelari agar mengikuti ketentuan panitia dengan tertib. Batas waktu, menurut Pramono, berlaku bagi seluruh peserta dan perlu diperhatikan sejak mereka mengikuti lomba, bukan baru dipersoalkan ketika jalur sudah ditutup.
Pramono mengaku dirinya juga mendapat penjelasan mengenai batas waktu saat mengikuti kategori 10K. Ia mengatakan kategori tersebut memiliki batas dua jam dan dirinya berusaha mengejar waktu agar tidak melewati ketentuan cut-off time.
“Saya aja dikasih tahu bahwa ini dua jam (kategori 10K), jadi tadi karena saya enggak mau apa, cut-off time, ya ngejar, luar biasa,” ujarnya.
Video pelari menerobos pembatas ramai dibicarakan
Peristiwa yang menjadi sorotan terjadi ketika panitia menutup jalur karena waktu COP telah lewat. Dalam sejumlah video yang dilihat detikcom, beberapa pelari tetap berupaya melewati pembatas. Ada yang memanjat pagar, sementara sebagian lainnya terlihat membuka pagar secara paksa.
Situasi itu kemudian ramai dibicarakan di media sosial. Rekaman juga memperlihatkan adanya peserta yang melontarkan kalimat kasar saat jalur ditutup. Namun, bahan yang beredar tidak merinci berapa banyak pelari yang terdampak maupun jumlah peserta yang berhasil mencapai titik batas waktu.
Respons Pramono menempatkan persoalan tersebut sebagai soal kepatuhan terhadap aturan lomba. Ia tidak menyebut adanya perubahan ketentuan setelah video itu viral. Pesan yang disampaikan kepada peserta adalah mengikuti arahan panitia dan memahami batas waktu yang berlaku.
Ketentuan COP dan COT menjadi penanda penting dalam pelaksanaan lomba yang memiliki batas waktu. Ketika tenggat terlewati, jalur dapat ditutup oleh panitia. Karena itu, peserta perlu memperhatikan informasi perlombaan yang disampaikan penyelenggara, termasuk waktu yang dialokasikan untuk kategori yang diikuti.
JRF berlangsung saat CFD Sudirman-Thamrin ditiadakan
Pada hari yang sama, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meniadakan hari bebas kendaraan bermotor atau car free day (CFD) di Jalan Sudirman-Thamrin untuk penyelenggaraan JRF. Sejumlah warga yang mengira CFD tetap berlangsung akhirnya berolahraga di sekitar lokasi atau menonton para pelari.
Pantauan detikcom pada Minggu sekitar pukul 08.00 WIB menunjukkan warga beraktivitas di trotoar hingga bahu jalan. Petugas mengingatkan bahwa HBKB ditiadakan dan meminta warga menepi karena arus lalu lintas telah dibuka kembali.
Ade, warga Kemayoran berusia 30 tahun, mengaku tidak mengetahui CFD ditiadakan. Ia biasanya berlari dari kawasan Bundaran HI ke arah Semanggi, tetapi kali itu memilih berolahraga di sekitar Bundaran HI sambil menyaksikan JRF. Ade mengatakan ia berharap suatu saat bisa ikut lomba tersebut.
Perbedaan pengalaman warga dan peserta lomba memperlihatkan pentingnya informasi yang jelas ketika sebuah ajang mengubah aktivitas di ruang publik. Bagi pelari, kepatuhan terhadap COP dan COT tetap menjadi bagian dari aturan kompetisi; bagi warga, pengumuman mengenai peniadaan CFD membantu mereka menyesuaikan kegiatan. Penyelenggaraan berikutnya akan kembali menguji koordinasi informasi, pengaturan jalur, dan pemahaman peserta terhadap ketentuan lomba.
